Ibadah Umroh Sebagai Pelipur Haji Yang Antrenya Lama?

Ibadah Umroh Sebagai Pelipur Haji Yang Antrenya Lama?

Umroh Sebagai Pelipur Haji – Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa haji merupakan rukun islam yang kelima. Sebagai penutup rukun islam, haji memiliki peran strategis sebab ia adalah penyempurna ajaran Islam.

Karena itulah, seseorang bisa dikatakan muslim sejati, ketika kelima rukun yang menjadi dasar keislaman sudah terpenuhi. Dalam konteks ini, Abdul Mu’ti mengatakan bahwa empat rukun islam yang diwujudkan dalam dua syahadat, salat, zakat, dan puasa merupakan bagian monumental dari syarat untuk melakukan ibadah haji.

Idealitas demikian sesungguhnya merujuk pada Qs. al-Baqarah: 197. Dalam ayat itu, cuplikan akhir ayat memerintahkan untuk mencari perbekalan, dan perbekalan yang paling baik adalah takwa.

Alhasil, pentingnya ibadah haji yang menjadi bagian penting untuk mewujudkan kesempurnaan iman menyebabkan haji menjadi ritus yang dicita-citakan oleh seluruh umat islam. Bahkan, haji seolah menjadi magnet yang serta merta mengerucutkan umat Islam untuk secara keseluruhan mewujudkan impian demikian.

Umroh Sebagai Pengganti Haji ?

Berangkat dari kenyataan itulah, haji menjadi bagian tak terpisahkan yang justru menimbulkan polemik yang berkelanjutan. Berdasarkan data yang telah dirilis oleh beberapa media digital beberapa waktu yang lalu, bahwa kuota tunggu haji di tahun 2018 sudah mencapai 21 tahun.

Sehingga, ketika ada jamaah haji yang mendaftar di tahun 2018, maka potensi untuk pemberangkatannya adalah tahun 2039. Sangat fantastis bukan?

Meski saban tahun kuota haji yang digulirkan oleh pemerintah selalu mengalami penambahan. Namun, penambahan itu juga tidak bisa membendung keinginan kebanyakan umat muslim untuk berangkat menuju dua kota suci yang dimulyakan.

Fenomena ini pada akhirnya seolah memuncak menjadi gunung es yang pada akhirnya menambah deretan kuota haji yang sampai harus menunggu 21 tahun. Kendati demikian, di tengah fenomena yang mengkristal seperti demikian, ternyata ritus haji menjadi salah satu dogma yang membuat keserakahan sebagian umat Islam.

Jamak terjadi di kalangan awam, banyak masyarakat muslim yang melakukan haji sampai berkali-kali. Padahal, jika melihat ritus haji yang dilakukan secara berkali-kali, tentu akan berdampak pada tatanan kuota haji yang semakin mengular.

Haji Berkali-kali ?

Dalam beragam prespektif, tentu fenomena haji berkali-kali oleh sebagian masyarakat muslim, telah menuai banyak kritik yang disajikan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahkan, secara seksama hal itu juga dikaitkan dengan “lebih baik” melakukan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar, dibanding dengan melakukan ibadah haji berkali-kali.

Semakna dengan itu, seorang tokoh pengurus Majlis Ulama Indonsia juga sering kali memberikan nasehat kepada masyarakat muslim yang kelebihan rizki untuk berhaji hanya sekali. Selebihnya, uang yang ia meliki lebih baik digunakan untuk berinfaq dan melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar.

Selain itu, apabila mengamati hukum dari ritus haji yang dilakukan secara berkali-kali, maka kewajiban haji hanyalah dilakukan sekali, dan selebihnya beralih menjadi sunah.

Terlepas dari berubahnya hukum demikian, tentu adanya fenomena haji berkali-kali akan menimbulkan beragam polemik yang justru mencederai keinginan banyak orang. Apalagi, dengan melihat sederet kuota haji yang mengular, tentu tak disalahkan bila fenomena tersebut mendapat kritik tajam oleh banyak masyarakat.

Karena itulah, hikmah dibalik disunahkannya umroh yang hanya memiliki beberpa perbedaan dengan pelaksanaan haji, sesungguhnya secara jelas digunakan untuk pelipur lara atas keinginan masyarakat yang selalu ingin melakukan haji berkali-kali.

Sebab apabila kita menanyakan satu persatu kepada seluruh jamaah haji, tentang keinginan untuk berngkat haji berulang kali, maka secara kebanyakan akan mengatakan untuk melaksanakan ibadah haji kembali.